Seratus pena pun tak cukup untuk menuliskan kisah persahabatan kami yang penuh cerita. Cerita persahabatan yang berbeda dari sekian banyak kisah persahabatan biasa. Persahabatan kerap dikenal dengan kebersamaan, kekompakan, keceriaan. Ini berbeda. Inilah sepenggal kisah persahabatan Taula dan Aku.
Taula
namanya. Ia adalah salah seorang kolegaku di sebuah lembaga pendidikan ternama
di kota tempat tinggalku. Ia adalah seorang guru yang sangat sederhana. Ia
cenderung pendiam dan tak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Tatapan di balik
kacamata tebal itu tak begitu mau beralih barang sebentar kepadaku. Dingin, tak
begitu banyak bicara. Tak hanya padaku, semua orang berkata begitu. Guru Ilmu
Sosial yang seharusnya selalu bersosialisasi namun begitu dingin seperti tak
peduli dengan sekitarnya.
Setiap
harinya aku duduk berseberangan dengan Taula di kantor majelis guru. Tak sabar
hati ini ingin mengajak Taula berbicara banyak. Maklumlah guru bahasa memang
suka berbicara, tanpa bicara terasa ada yang kurang. Semua ingin dijadikan
teman untuk sekedar mengasah kemampuan verbal yang dimiliki. Taula tak
bergeming, satu kata dibalas satu kata. Ah, sungguh tak mengasyikkan. “Perbincangan
macam apa ini…!” batinku menjerit, sakit hati.
Berbulan
- bulan menghadapi kolega dingin seperti ini, serasa hidup di tengah hutan
belantara. Seperti kesunyian malam yang hanya dipenuhi oleh nyanyian jangkrik.
Hening dan sangat membosankan. Begitu banyak kalimat yang ditabung. Ingin
segera dikeluarkan seperti letusan gunung berapi yang memendam lava.
“Taula,
boleh duduk di sini?” kataku ragu.
“Iya
boleh mbak.” Ujarnya sedikit menoleh kepadaku.
Satu, dua, tiga menit berlalu tak ada
sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Seolah - olah ia menyimpan permata yang
sangat berharga di dalam mulutnya itu. Hingga rasa penasaranku memuncak sampai
ke ubun - ubun.
“Taula,
boleh sedikit minta waktunya?” kataku mulai meluap.
“Boleh
mbak.” Ujarnya dingin.
“Hmmm,
Taula jurusannya Sosiologi, kenapa tidak banyak bicara? Kita sebagai guru harus
memiliki kompetensi yang 4 itu. Salah satunya adalah Kompetensi Sosial. Kita
harus membangun komunikasi dengan kolega kita.” Aku mulai menceracau tak
terkendali lagi
“Taula,
saya takut kamu dibenci semua orang. Saya lihat kamu tidak memiliki satu orang
teman pun di sini. Taula please change it!
Be friendly!” ujarku langsung ke
intinya.
“Tidak
ada yang harus saya ucapkan mbak.” Jawaban dari sekian banyak kata yang kuucapkan
dan bahkan sekaligus penutup pembicaraannya.
Aku
langsung berdiri dan pergi meninggalkannya. Dengan derita rasa penasaran, aku
melangkah keluar. Sedangkan ia lanjut membaca bukunya. Sekilas aku melihat
judul buku yang ia baca Karakter dan
Kepribadian Seorang Muslim. Pikiranku langsung teringat dengan berbagai
kepribadian manusia, ada yang extrofert
dan introfert. Extrofert adalah kepribadian manusia yang cenderung terbuka
sedangkan introfert adalah
kepribadian manusia yang cenderung tertutup.
Aku
sangatlah extrofert, kepribadian ini
sama sekali tidak bisa diubah dariku. Terkadang kepiawaianku dalam berbicara
membuat orang senang namun tak jarang menyebalkan bagi beberapa orang. Biasalah
memang, dalam sebuah perkumpulan pasti ada sekumpulan pro dan kontra, iri,
saling sikut, gosip pun pasti ada. Namun aku sama sekali tidak memikirkan itu. Aku
memanggap semua orang postif. Dengan mudahnya aku bercerita apa saja tanpa
memikirkan seperti apa orang itu. Hingga suatu masa, aku harus menerima akibat yang
sangat di luar dugaan gara - gara lisanku.
Aku
salah ucap kepada salah seorang kolega lain yang membuatku gelap mata karena
merasa paling benar. Aku tidak siap menerima kritikan yang menurutku itu salah.
Aku akhirnya menyadari bahwa tak sepantasnya aku berucap kasar kepadanya. Masalah
itu pun sampai ke atasanku. Aku merasa bahwa ini sudah berakhir. Aku merasa harapanku
akan sia - sia. Aku merasa satu - satunya tempatku bekerja dan bergantung tak
menaruh percaya lagi padaku. Semua kolega tau permasalahan itu. Aku kehilangan
kepercayaan diri. Aku sangat menyesal dan beharap semuanya segera berakhir dan
kembali seperti sediakala. Namun itu mustahil, semua sudah menjauh. Sahabat
yang kudambakan menghilang. Aku menyesali lisanku yang asal bicara. Aku
frustasi dan memilih berdiam diri di laboratorium IPA. Sambil berusaha
menghibur diri kuraih ponselku lalu membaca kalam ilahi. Obat dari segala
penyakit termasuk kesedihanku ini.
Aku
menoleh ke sebuah pintu yang tiba - tiba terbuka. Sesosok wanita berdiri di depan
pintu labor dan mengetuk pintu ruangan itu. Tampak tak jelas karena sinaran
dari luar pintu yang menyilaukan mataku. Ia pun perlahan mendekatiku. Mulailah
tampak jelas siapa pemilik wajah itu. Aku tak yakin dengan apa yang aku lihat.
Wanita yang menghampiriku ini adalah Taula.
“Mbak
boleh duduk disini mba?” ucapnya tenang.
“Iya,
boleh Taula, silahkan.” Ucapku masih tak percaya akan kehadirannya di dekatku.
“Mbak,
boleh curhat nggak mba?” ujar Taula dengan wajah sedih.
Aku
terkesima mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Taula. Kenapa tiba - tiba
Taula ingin curhat padahal biasanya ia tak pernah bercerita denganku. Sejenak
aku lupa dengan kesedihanku dan memilih untuk mendengarkan curhatan dari “Manusia
Langka” yang ada dihadapanku.
“Mbak
sekarang saya lagi kacau sekali mbak.” Ujarnya tenang sekali.
“Kacau
kenapa Taula?” tanyaku berusaha menjadi pendengar baik.
“Mbak
sebenarnya saya udah capek mbak. Saya patah semangat mbak. Banyak masalah yang
bercokol di kepala ini. Saya mau resain saja mbak.” Ujarnya dengan nada sedih.
“E,
eh kenapa seperti itu? ingat dek perjuangan kita masuk kesini dan kepercayaan
yang diberikan sekolah ini untuk kita. Segala masalah hanyalah kerikil - kerikil
saja. Kita harus tetap tegak dan berjuang” Ujarku penuh semangat
“Mmmm
Mbak. Saya merasa semua orang harus dimengerti tapi saya sendiri tidak
dimengerti. Saya sudah berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik untuk institusi
ini baik itu pemikiran ataupun solusi yang terbaik terkait permasalahan yang
ada namun mereka tak menyadarinya.” Ujarnya mulai berlinangan air mata.
“Taula,
itulah kehidupan kerja dek. Semua jenis manusia ada disini. Ada yang baik dan
ada yang merasa baik.” Ujarku.
“Mbak
mereka tidak mengerti maksud saya berkata demikian mbak. Saya berniat baik
untuk mengatakan yang sebenarnya mbak. Batin ini menjerit tak terima. Saya
lakukan ini salah, itu salah, saya merasa seperti orang yang kehilangan
kepercayaan publik.” Ujarnya menjelaskan dirinya yang tersiksa.
“Taula,
biarlah kita kehilangan kepercayaan publik dibandingkan kita kehilangan
kepercayaan Allah untuk berbuat baik.” Ujarku teringat dengan perkataan orang tuaku.
“Mbak.
Saya berusaha jadi orang yang terbuka tapi sepertinya saya pengen jadi orang
yang tertutup lagi.” Ucap Taula sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Jangan
Taula! terlalu tertutup juga tidak bagus.” Kataku.
“Tapi
lisan saya berbahaya mbak. Saya takut akan menyakiti hati orang lain baik sengaja
maupun tidak disengaja. Saya teringat dengan perkataan Rasulullah: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” Saya ingat tentang
hadist ini mbak sehingga membuat saya susah untuk berbicara. Maaf ya mbak
selama ini saya tidak mau berbicara banyak.” Ujar Taula sangat lembut dan penuh
kehati - hatian.
Sejenak
aku berfikir. Apa maksud Taula si Manusia Langka ini. Apakah ia berusaha
mengguruiku? aku berusaha menepis fikiran buruk itu. Apakah ia sudah tau dengan
masalah yang sedang ku alami sehingga ia berusaha untuk menasehatiku?
Akhirnya
aku tersadar, ternyata ia sedang berusaha menasehatiku dengan caranya yang
unik. Ia berusaha mendorongku untuk menemukan penyelesaian masalah diri dengan
memancingku untuk mengungkapkan pengetahuanku tentang penyelesaian masalah yang
ada. Aku tersadar bahwa seharusnya aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri,
buktinya aku bisa menasehati Taula yang seharusnya nasehat itu tertuju padaku.
“Taula,
mbakmu ini sedikit Introfert tapi banyak
Ekstrofert-nya. Ha, ha ha,” aku mulai
menyadari kesalahanku dengan candaan yang menyesali diri.
Nampaklah
di wajah Taula sebuah senyuman yang begitu tulus dan ikhlas. Ukhuwah pun terjalin dari rasa simpati yang
terpancar dari hatinya yang ikhlas. Tak perlu banyak bicara, namun sekali
bertindak begitu bermakna. Bak ibarat tanah kering kerontang yang disirami air
hujan. Begitu menyejukkan hati. Langkah demi langkah cerita dirinya yang ia
ujarkan adalah sebuah gambaran tentang diriku, namun ia kemas dengan cara yang
apik agar tidak menyinggung perasaanku. Wah memang seorang sosialis ulung. Ia
tak melupakan rasa dan karsa bahkan ia tau kondisi psikologiku yang cendrung
tak bisa disanggah.
Sekarang
aku mulai memperbaiki diri untuk selalu menjaga lisanku ini. Setiap ada
keramaian santai yang menuntutku untuk berbicara, kutepis dengan ingatanku
kepada sosok Taula yang tidak banyak bicara namun banyak bertindak dengan
ilmunya. Patutlah para filsuf mengatakan dalam kata - kata mutiaranya sedikit berbicara namun banyak bertindak.
Talk less do more!.
Terimakasih Taula. Persahabatan tidak
hanya sekedar kebersamaan namun saling menasehati dikala kita salah adalah
suatu persahabatan yang hakiki. Memahami kekurangan saudara adalah suatu hal
yang patut ditanamkan di hati. Itulah dirimu, Taula, manusia unik yang
tercipta. Hingga kini, Taula Sahabatku
yang Langka, selalu ku kenang sebagai “Tauladanku”.
Sepenggal
kisah kehidupan dalam cerpen.